spot_img

Harapan Damai Sirna, Harga Emas Dunia Ambles Lebih dari 3%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Rabu (10/06/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (11/06/2026) WIB. Penurunan ini dipicu oleh sirnanya harapan damai di Timur Tengah akibat meningkatnya permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Mengutip CNBC, harga emas spot anjlok 4,5% menjadi USD 4.070,56 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus merosot 3,57% dan menetap di level USD 4.133,30 per ons troi. Ini merupakan level penutupan terendah sejak 24 November 2025.

Lukman Otunuga, Senior Research Analyst di FXTM, memberikan analisanya terkait kejatuhan harga logam mulia ini. Ia melihat emas terjepit di antara risiko inflasi dan ketegangan politik.

“Emas tetap menjadi korban dari meningkatnya risiko inflasi meskipun ketegangan geopolitik memicu penghindaran risiko. Permusuhan baru AS-Iran pada dasarnya telah menyabotase upaya untuk mengakhiri perang,” ujar Otunuga.

Situasi memanas setelah Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone). Serangan ini menargetkan pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Langkah ini merupakan balasan atas serangan Amerika terhadap sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz.

Bentrokan ini menjadi salah satu pertukaran permusuhan terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April lalu. Konflik ini menyebabkan lonjakan harga minyak yang memicu ketakutan akan inflasi tinggi. Hal ini berujung pada ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral.

Secara teori, emas merupakan aset pelindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya menekan harga emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil. Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 67% berdasarkan data CME FedWatch.

Otunuga menambahkan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis sangat dinantikan pasar. Data tersebut diprediksi akan memengaruhi langkah bank sentral AS atau The Fed pada paruh kedua tahun 2026.

“Dari sisi teknis, penurunan emas di bawah SMA (Simple Moving Average) 200 hari adalah sinyal bearish yang dapat memicu tekanan jual tambahan, dibantu oleh fundamental,” tambah Otunuga.

Sejak perang antara AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga emas telah turun lebih dari 20%. Sentimen negatif ini juga merembet ke logam mulia lainnya pada perdagangan hari yang sama.

Harga perak spot turun hampir 3% menjadi USD 63,40 per ons troi. Platinum juga merosot 3,6% ke posisi USD 1.664,48 per ons troi. Sebaliknya, harga paladium justru menguat 0,6% menjadi USD 1.213,75 per ons troi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ancaman Serangan Trump ke Iran Picu Kenaikan Harga Minyak Dunia

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%...

Aksi Jual Melanda Pasar, Harga Emas Dunia Tergelincir Jelang Rilis Data Inflasi

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa...

Harga Minyak Dunia Anjlok 3% Setelah Jalur Selat Hormuz Kembali Pulih

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 3%...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru