STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatat kinerja gemilang sepanjang paruh pertama 2026. Emiten manufaktur kertas kemasan ini berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp87,66 miliar pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026.
Capaian ini menjadi titik balik bagi Perseroan. Pasalnya, pada periode yang sama tahun 2025, FASW masih menderita rugi bersih sebesar Rp491,66 miliar. Berkat performa ini, laba per saham dasar FASW kini berada di angka Rp27,21. Angka ini membaik drastis dari sebelumnya yang minus Rp198,42.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026 yang dipublikasikan Selasa (21/7/2026), pertumbuhan laba ini ditopang oleh kenaikan penjualan neto. Penjualan FASW mencapai Rp4,35 triliun di semester I 2026. Realisasi itu tumbuh 8,32% dibandingkan Rp4,02 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pasar dalam negeri masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan dengan nilai Rp2,76 triliun. Sementara itu, penjualan ekspor menyumbang Rp352,34 miliar. Penjualan kepada pihak berelasi juga berkontribusi besar yakni mencapai Rp1,24 triliun atau 28,57% dari total penjualan.
Kinerja positif ini juga didorong oleh efisiensi biaya produksi. Beban pokok penjualan FASW justru turun menjadi Rp3,87 triliun di tengah naiknya penjualan. Padahal di semester I 2025, beban pokok penjualan mencapai Rp4,03 triliun. Hal ini membuat Perseroan meraih laba bruto Rp482,52 miliar, berbanding terbalik dengan rugi bruto Rp6,87 miliar di tahun lalu.
Selain efisiensi produksi, manajemen FASW juga berhasil menekan beban keuangan secara signifikan. Beban keuangan menyusut menjadi Rp137,04 miliar dari sebelumnya Rp259,49 miliar. Di sisi lain, Perseroan mencatat lonjakan pendapatan keuangan dari Rp4,56 miliar menjadi Rp24,03 miliar.
Dalam surat pernyataan direksi, Yustinus Yusuf Kusumah, Presiden Direktur FASW menyampaikan tanggung jawab penuh atas laporan tersebut. “Kami bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian interim PT Fajar Surya Wisesa Tbk. dan entitas anak,” ujar Yustinus.
Senada dengan Yustinus, Direktur FASW Ekachai Anujorn menyatakan laporan tersebut disusun sesuai standar akuntansi yang berlaku. “Laporan keuangan konsolidasian interim telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia,” kata Ekachai.
Dari sisi neraca, total aset FASW per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp12,43 triliun. Angka ini meningkat tipis dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp12,23 triliun. Pertumbuhan aset ini terdiri dari aset lancar sebesar Rp3,18 triliun dan aset tidak lancar Rp9,24 triliun.
Sementara itu, total liabilitas Perseroan mencapai Rp6,60 triliun. Jumlah ini terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp3,99 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp2,61 triliun. Adapun total ekuitas FASW tercatat menguat menjadi Rp5,83 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp5,74 triliun

