STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa mayoritas ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Eskalasi militer di Timur Tengah dan jatuhnya saham teknologi menjadi penyebab utama. Sentimen negatif ini muncul saat harga minyak melonjak 3% dan investor menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (Fed).
Mengutip Investing, indeks STOXX 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 0,3%. Sebagian besar sektor dan bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis merosot 0,60% ke level 8.408,27. IBEX 35 Spanyol anjlok 1,59% ke posisi 19.412,70.
Indeks DAX Jerman turun tipis 0,01% ke level 25.460,48. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris bergerak melawan arus dengan menguat 0,34% ke posisi 10.908,41. Pasar obligasi tetap tertekan karena imbal hasil obligasi negara meningkat.
Investor merasa gugup menjelang keputusan kebijakan moneter Fed. Pasar memperkirakan ada peluang 1 banding 3 untuk kenaikan suku bunga yang tidak terduga. Kekhawatiran ini muncul akibat inflasi yang persisten, tarif perdagangan baru, dan kenaikan harga energi.
Sentimen pasar memburuk setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi di Irak. Serangan ini menargetkan kelompok yang didukung Iran. Teheran memperingatkan tuduhan tersebut adalah “salah perhitungan besar”. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Saham teknologi Eropa juga jatuh mengikuti penurunan sektor semikonduktor di Asia. Hal ini dipicu oleh kegagalan SK Hynix mencapai target laba operasional kuartalannya. Investor mulai cemas terhadap valuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang sudah sangat tinggi.
Russ Mould, Direktur Investasi AJ Bell, menyoroti risiko investasi pada saat ini. Ia menilai investor membayar harga sangat mahal untuk rekor pendapatan yang belum pasti.
“Risikonya adalah investor membayar penilaian tinggi untuk rekor pendapatan. Hal ini mungkin baik-baik saja jika pendapatan terwujud, namun bisa ada masalah ke depan jika tidak terjadi,” ujar Russ.
Di tengah tekanan makro, beberapa laporan laba perusahaan tampil kuat. Standard Chartered menaikkan target pendapatan tahunan setelah unit manajemen kekayaannya melonjak. Saham bank ini naik 4,9%.
Raksasa Swiss, UBS, juga melampaui ekspektasi laba bersih kuartal kedua dengan kenaikan saham 1,8%. CaixaBank dari Spanyol turut melaporkan pendapatan yang melampaui estimasi pasar.
Sektor barang mewah mendapat angin segar dari Kering. Saham pemilik merek Gucci ini melonjak hampir 15%. Hal ini terjadi setelah Gucci melaporkan penurunan penjualan yang lebih kecil dari perkiraan.
Perusahaan tambang Rio Tinto mencatat laba semester pertama tertinggi dalam empat tahun dan sahamnya naik 1,6%. Perusahaan kesehatan GSK juga menaikkan prospek margin tahunan. GSK berencana melakukan program restrukturisasi senilai USD 2,5 miliar

