spot_img

Dana Asing Mulai Masuk, BBCA Jadi Primadona, IHSG Berpeluang Lanjut Menguat

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Investor asing mulai menunjukkan minat kembali terhadap pasar saham Indonesia.  Pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026, investor asing membukukan beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp638,05 miliar di seluruh pasar. Khusus di pasar reguler, nilai beli bersih asing mencapai Rp725,11 miliar..

Aksi beli tersebut terjadi di tengah penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sepanjang pekan ini, IHSG tercatat telah melonjak 4,24% menjadi 6.175,535 dari posisi 5.924,360 pada pekan sebelumnya.

Meski demikian, secara kumulatif selama 2026, investor asing masih mencatatkan jual bersih sebesar Rp75,712 triliun.

Penguatan pasar saham juga tercermin dari meningkatnya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 13-17 Juli 2026. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 36,25% menjadi Rp13,99 triliun dari Rp10,27 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian naik 27,75% menjadi 26,17 miliar saham dari 20,49 miliar saham.

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 24,60% menjadi 2,33 juta kali transaksi dibandingkan 1,87 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI juga bertambah 3,95% menjadi Rp10.749 triliun dari Rp10.340 triliun.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama, menilai masuknya dana asing tersebut mengindikasikan perubahan sentimen investor terhadap pasar saham domestik.

“Masuknya dana jumbo Rp638,57 miliar dalam satu hari, bahkan mencapai Rp725,11 miliar khusus di pasar reguler, menunjukkan adanya perubahan sentimen dari risk-off menjadi risk-on terhadap pasar ekuitas Indonesia,” kata Nafan kepada Stockwatch.id di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Meski demikian, menurut dia, masih dibutuhkan konfirmasi lebih lanjut sebelum menyimpulkan arus masuk dana asing tersebut sebagai awal tren jangka panjang.

“Namun, untuk dikatakan sebagai tren pembalikan arah jangka panjang, kita masih perlu melihat konsistensi inflow ini dalam satu hingga dua minggu ke depan agar tidak terjebak false signal,” ujar Nafan.

BBCA Jadi Incaran Utama Asing

Arus dana asing pada perdagangan terakhir pekan ini terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Berdasarkan data perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi top foreign buy dengan nilai mencapai Rp698,3 miliar. Selanjutnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp374,8 miliar. Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp267,7 miliar. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga mencatatkan beli bersih asing Rp76,3 miliar. Ini diikuti PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp29,1 miliar.

Menurut Nafan, investor global lazimnya akan masuk terlebih dahulu ke saham perbankan besar ketika kembali berinvestasi di pasar negara berkembang.

“Investor asing yang ingin kembali masuk ke pasar emerging markets biasanya akan membeli saham bank berkapitalisasi besar terlebih dahulu karena likuiditasnya tinggi dan mencerminkan pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya.

Selain itu, koreksi harga yang terjadi sebelumnya membuat valuasi saham perbankan menjadi lebih menarik.

“Di sisi lain, koreksi yang sempat terjadi pada saham seperti BBRI dan BMRI sebelumnya membuat valuasinya menjadi sangat murah atau undervalued bagi manajer dana global, sehingga memicu aksi bargain hunting,” ujar Nafan.

Ia menilai dominasi saham perbankan sangat penting bagi arah IHSG ke depan.

“Saham BBCA, BBRI, dan BMRI merupakan tiga pilar dengan bobot kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Jika investor asing konsisten mempertahankan net buy di sektor ini, bursa kita punya bahan bakar yang lebih dari cukup untuk melanjutkan tren bullish jangka pendek,” kata Nafan.

Valuasi BBCA Dinilai Menarik

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, juga melihat valuasi BBCA saat ini sudah berada pada level yang menarik.

Dalam riset bertajuk 1Q26 Equity Update tertanggal 16 Juli 2026, Kiwoom mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga 12 bulan sebesar Rp8.075 per saham.

Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 31,84% dibandingkan harga penutupan sebelumnya di Rp6.125 per saham.

Kiwoom menyebut valuasi BBCA saat ini telah berada jauh di bawah rata-rata historis.

“Current valuation itu sudah minus dua standar deviasi, berarti sudah jauh di bawah rata-rata historical PBV tiga tahun,” ujar Liza.

Menurut Kiwoom, BBCA diperdagangkan pada proyeksi price to book value (PBV) 2026 sebesar 3,3 kali, sedikit di bawah level standar deviasi minus satu dari rata-rata PBV tiga tahun sebesar 3,4 kali.

Secara fundamental, BBCA membukukan laba bersih Rp14,7 triliun pada kuartal I-2026 atau naik 3,8% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang pendapatan nonbunga dan pengendalian biaya operasional.

Total kredit BBCA mencapai Rp993,8 triliun atau tumbuh 5,6% secara tahunan, sedangkan dana murah atau current account saving account (CASA) naik 11,2% menjadi Rp1.089 triliun. Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8%.

Saham Komoditas Dilepas

Di tengah derasnya arus beli pada saham perbankan, investor asing justru mencatatkan jual bersih pada sejumlah saham berbasis komoditas dan energi.

Saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatat net sell asing sebesar Rp162,5 miliar. Kemudian PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp34,4 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp23,1 miliar, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Rp21,1 miliar dan PT Indika Energy Tbk (INDY) Rp20,6 miliar.

Menurut Nafan, kondisi tersebut mencerminkan strategi penyesuaian portofolio investor institusi global.

“Institusi besar kerap melakukan rebalancing portofolio. Mereka mengamankan keuntungan atau mengurangi bobot dari saham sektor komoditas dan energi yang pergerakannya sedang melambat, lalu memindahkan dana segar tersebut ke sektor finansial yang dirasa lebih prospektif,” kata dia.

Ia menambahkan, fluktuasi harga komoditas global dan konsolidasi sektor energi membuat daya tarik jangka pendek saham-saham tersebut menurun dibandingkan sektor perbankan.

Masuknya dana asing ke saham-saham perbankan besar juga membuka peluang bagi IHSG untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menantikan apakah arus masuk dana asing tersebut dapat bertahan dalam beberapa pekan mendatang dan menjadi titik awal pembalikan tren setelah tekanan jual asing yang terjadi sepanjang semester pertama 2026.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Resmi Stock Split 1:25, BEI Tetapkan Harga Teoretis Multipolar (MLPT) Rp1.040 per Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan...

BEI Tanya soal Fluktuasi Saham, Manajemen Polychem (ADMG) Jawab Begini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG)...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru