STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terperosok cukup dalam pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026). Dibuka melemah di level 6.599,213, indeks terus merosot hingga menyentuh level 6.300.
IHSG akhirnya ditutup melorot 228,56 poin atau anjlok 3,46% ke level 6.370,679. Posisi ini turun signifikan dibandingkan penutupan Senin (18/5/2026) yang berada di level 6.599,240.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 612 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, 112 saham menguat dan 94 saham tidak bergerak atau stagnan. Meskipun indeks terjun bebas, investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy) senilai Rp306 miliar di pasar reguler.
Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp15.000 triliun dengan nilai transaksi mencapai Rp25 triliun. Volume perdagangan tercatat sebanyak 46 juta saham.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, RTA, RSA, AWP, menjelaskan tekanan pasar terutama berasal dari saham-saham konglomerasi dan komoditas. Kondisi ini dipicu munculnya rumor terkait rencana pemerintah membentuk badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis. Badan ini rencananya mencakup sektor batu bara, CPO, hingga mineral logam.
Reza mengatakan, secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam tekanan. Ia memproyeksikan area support berada di level 6.322 dan resistance pada posisi 6.635.
“Isu tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengendalian harga jual yang dapat menekan margin dan profitabilitas emiten terkait,” ungkap Reza.
Para pelaku pasar kini mulai memantau hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Suku bunga BI Rate diproyeksikan naik sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%. Selain itu, investor mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Di sisi lain, terdapat kabar positif dari fundamental ekonomi nasional. Kementerian Keuangan mencatat pendapatan negara per April 2026 tumbuh 13% secara tahunan mencapai Rp918 triliun. Capaian ini ditopang oleh kinerja penerimaan pajak dan PNBP yang tetap solid.
Untuk perdagangan Rabu (20/5/2026), BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham-saham berikut:
1. BUY STOCKPICK – TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk)
Technical Summary: Meskipun secara jangka pendek memiliki tren bearish, sudah terlihat tanda pembalikan arah. Muncul pola cup and handle dengan neckline di 3.010. Target penguatan terdekat berada pada level 3.160–3.230.
Sentimen Tambahan: TLKM mengumumkan rencana penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 8 Juni 2026.
Trading Plan (Day Trade): Buy 3.030–3.080 | R1 3.160 | R2 3.230 | Stop Loss < 3.000
2. BUY STOCKPICK – MYOR (PT Mayora Indah Tbk)
Technical Summary: Pergerakan saham MYOR mampu bertahan dan rebound di atas level support 1.705–1.765. Potensi penguatan lanjutan terbuka dengan target resistance terdekat pada 1.865–1.910.
Sentimen Tambahan: MYOR membukukan laba bersih pada Kuartal I 2026 sebesar Rp945,6 miliar. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp689,4 miliar.
Trading Plan (Day Trade): Buy 1.780–1.815 | R1 1.865 | R2 1.910 | Stop Loss < 1.750
3. BUY STOCKPICK – SUPA (PT Super Bank Indonesia Tbk)
Technical Summary: Pergerakan saham SUPA saat ini tertahan di atas level support penting 810–850. Potensi rebound masih terbuka dengan target resistance terdekat pada level 885–915.
Sentimen Tambahan: SUPA mencatatkan kinerja luar biasa pada kuartal pertama 2026 dengan lonjakan laba bersih sebesar Rp78,19 miliar. Angka tersebut meroket 31.051% secara tahunan dibandingkan laba bersih kuartal pertama 2025 yang hanya Rp251 juta.
Trading Plan (Day Trade): Buy 830–850 | R1 885 | R2 915 | Stop Loss < 810
4. SELL STOCKPICK – TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk)
Technical Summary: Pergerakan saham TPIA masih dalam tren bearish dan menembus level support penting pada area psikologis 4.000. Waspadai potensi penurunan lebih lanjut dengan target support terdekat pada 2.890–2.340.
Sentimen Tambahan: Dalam sebulan terakhir, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp276 miliar di pasar reguler.
Trading Plan (Sell): Last Price 3.120 | Next Support 2.890
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.

