STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba bersih Rp29,5 triliun pada semester I 2026. Perolehan ini tumbuh 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp29,0 triliun.
Kinerja positif bank bersandi saham BBCA ini ditopang oleh pertumbuhan total pendapatan operasional. Berdasarkan data keuangan konsolidasi per Juni 2026, pendapatan operasional naik 2,2% menjadi Rp55,8 triliun dari Rp54,6 triliun pada tahun sebelumnya.
Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income) menyumbang Rp42,4 triliun. Sementara itu, Pendapatan Non-Bunga melonjak 11% menjadi Rp13,2 triliun. Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan pendapatan provisi dan komisi sebesar 11,2% menjadi Rp11,0 triliun.
Presiden Direktur BCA, Gregory Hendra Lembong menjelaskan penyaluran kredit perusahaan untuk pertama kalinya menembus angka psikologis baru. Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung perekonomian nasional.
“Penyaluran kredit BCA per semester 1 2026 tumbuh 8% year on year dan untuk pertama kalinya menembus angka Rp1.000 triliun. Tepatnya senilai Rp1.036 triliun,” ujar Hendra Lembong dalam keteranga pers di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh sektor produktif sebesar Rp802 triliun atau naik 11% secara tahunan. Kredit korporasi mendominasi dengan nilai Rp513,4 triliun (naik 13,6%). Segmen komersial dan UKM juga tumbuh 6,6% menjadi Rp288,5 triliun.
Dari sisi efisiensi, beban operasional terjaga di angka Rp17,4 triliun atau hanya naik 1,5%. Biaya tenaga kerja turun 1,2% menjadi Rp9,0 triliun. Beban provisi termasuk pemulihan kredit juga berkurang 4,4% menjadi Rp1,8 triliun.
Strategi ini mendorong Laba Sebelum Provisi (PPOP) tumbuh 2,5% menjadi Rp38,4 triliun. Kualitas aset tetap sehat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 1,9% dan Loan at Risk (LAR) 4,9%.
“BCA berterima kasih atas seluruh kepercayaan nasabah setia selama ini sehingga kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan terbaik,” kata Hendra.
Kekuatan neraca perusahaan terlihat dari total aset yang mencapai Rp1.661 triliun, tumbuh 10,4%. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 7,9% menjadi Rp1.284 triliun. Komposisi dana murah (CASA) mencapai Rp1.082 triliun atau 84,3% dari total DPK.
Ekuitas perseroan per Juni 2026 tercatat sebesar Rp270 triliun, meningkat 3,4% dari Juni 2025 sebesar Rp262 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level kuat 26,8%.
Rasio keuangan penting lainnya mencatatkan angka yang solid. Tingkat pengembalian aset (ROA) berada di level 3,8% dan pengembalian ekuitas (ROE) 24,1%. Margin bunga bersih (NIM) tercatat sebesar 5,3%.
BCA juga memperkuat portofolio pembiayaan berkelanjutan (sustainable financing). Portofolionya tumbuh 11,4% menjadi Rp240 triliun atau berkontribusi 25,9% terhadap total kredit. Kredit hijau (green financing) naik 19% menjadi Rp123 triliun.
Khusus sektor energi baru terbarukan (EBT), pembiayaan BCA melonjak tajam 82% menjadi Rp7,7 triliun. Sedangkan kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25% mencapai Rp4 triliun.
Untuk meningkatkan layanan, BCA meluncurkan fitur pembukaan rekening efek dan Rekening Dana Nasabah (RDN) via MyBCA. Nasabah kini juga bisa mengajukan kartu kredit dan membeli tiket pesawat melalui aplikasi tersebut

