spot_img

Pendapatan BUKK Meroket 95%, Laba Bersih Turun ke Rp246,2 Miliar di Semester I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) mencatat kinerja operasional yang sangat kuat sepanjang semester pertama 2026. Pendapatan Perseroan melonjak tajam hampir dua kali lipat. Namun, kenaikan biaya keuangan dan rugi selisih kurs menekan perolehan laba bersih secara konsolidasi.

Berdasarkan laporan keuangan interim per Juni 2026 yang dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026, BUKK membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp246,20 miliar. Angka ini menyusut 32,19% jika dibandingkan dengan Rp363,09 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penurunan laba ini terjadi di tengah lonjakan pendapatan kontrak konstruksi dan non-konstruksi.

Pendapatan konsolidasi BUKK mencapai Rp2,26 triliun pada enam bulan pertama 2026. Realisasi ini meroket 95,75% dari Rp1,16 triliun pada Semester I 2025. Kontributor utama pendapatan berasal dari kontrak infrastruktur dan forging yang menyumbang Rp316,21 miliar. Selain itu, sektor energi dan tambang berkontribusi sebesar Rp347,39 miliar.

Perseroan menunjukkan efisiensi pada sisi beban pokok pendapatan. Beban ini justru turun menjadi Rp670,16 miliar dari sebelumnya Rp856,26 miliar pada 2025. Hal ini memicu lonjakan laba kotor sebesar 430,45% menjadi Rp1,59 triliun, jauh di atas laba kotor tahun sebelumnya yang hanya Rp300,56 miliar.

Meski laba kotor naik signifikan, laba sebelum pajak penghasilan tergerus oleh beberapa pos beban. Beban keuangan Perseroan melonjak menjadi Rp469,56 miliar dari Rp14,47 miliar. Selain itu, BUKK menanggung rugi selisih kurs mata uang asing yang sangat besar yakni Rp704,14 miliar. Padahal pada Juni 2025, Perseroan masih mengantongi laba kurs sebesar Rp558,83 juta.

Peningkatan beban operasional juga terlihat pada beban umum dan administrasi. Pos ini naik menjadi Rp180,13 miliar dari Rp106,27 miliar pada semester pertama tahun lalu. Beban penjualan juga mengalami kenaikan tipis menjadi Rp16,79 miliar dibandingkan Rp13,70 miliar pada 2025.

Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Tbk, Irsal Kamarudin, menegaskan komitmen manajemen terhadap transparansi laporan ini. “Kami bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian interim Grup,” ujar Irsal dalam surat pernyataan direksi. Ia juga memastikan bahwa seluruh informasi dalam laporan tersebut telah dimuat secara lengkap dan benar.

Dari sisi neraca keuangan, BUKK memiliki total aset sebesar Rp26,05 triliun per 30 Juni 2026. Nilai ini tumbuh 2,92% dari Rp25,31 triliun pada akhir Desember 2025. Aset lancar tercatat sebesar Rp5,26 triliun, sementara aset tidak lancar mencapai Rp20,79 triliun.

Total liabilitas Perseroan per Juni 2026 berada di level Rp17,11 triliun, naik dari Rp16,61 triliun pada akhir tahun 2025. Liabilitas ini didominasi oleh utang bank jangka panjang yang mencapai Rp13,30 triliun. Di sisi lain, total ekuitas BUKK menguat menjadi Rp8,93 triliun dari posisi Rp8,69 triliun di akhir Desember 2025.

Laba per saham dasar Perseroan juga mengalami penyesuaian. Nilainya menjadi Rp84 per saham per Juni 2026. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Rp136 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan terus berupaya menjaga struktur permodalan yang optimum demi kelangsungan usaha jangka panjang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Bersih Indosat (ISAT) Melonjak 84,5% Jadi Rp4,31 Triliun pada Semester I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan kinerja...

Pendapatan Tembus Rp2,68 Triliun, Laba Temas (TMAS) Melesat 54,28% di Semester I-2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Temas Tbk (TMAS) mencetak kinerja...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru