spot_img

Laba Bersih Superbank (SUPA) Melesat 790% Jadi Rp182,6 Miliar di Semester I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp182,61 miliar pada Semester I 2026. Perolehan ini melesat tajam sekitar 790% jika dibandingkan dengan Rp20,51 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026 yang dipublikasikan Senin, 28 Juli 2026, lonjakan laba ini sejalan dengan pertumbuhan laba sebelum pajak perusahaan. Superbank mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp234,40 miliar, atau tumbuh 669% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp30,48 miliar.

Peningkatan profitabilitas ini ditopang oleh Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang meningkat 51,7% yoy menjadi Rp1,01 triliun. Sebagai perbandingan, NII pada Semester I 2025 tercatat sebesar Rp665,29 miliar. Pendapatan bunga perusahaan melonjak menjadi Rp1,50 triliun, naik dari sebelumnya Rp904,49 miliar.

Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank, mengatakan semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi perusahaan. Menurut dia, strategi berbasis ekosistem yang dibangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya.

“Hal ini menunjukkan kami berhasil membangun pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan. Ke depan, kami akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan,” ujar Tigor.

Dari sisi operasional, beban bunga perusahaan tercatat naik menjadi Rp488,82 miliar dari Rp239,20 miliar pada 2025. Meski beban operasional lainnya meningkat menjadi Rp833,58 miliar dari Rp643,63 miliar, perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi. Hal ini terlihat dari rasio biaya terhadap pendapatan (Cost to Income Ratio/CIR) yang membaik menjadi 54,8% dari sebelumnya 74,6%.

Penyaluran kredit menjadi motor utama pendapatan. Hingga Juni 2026, total kredit yang diberikan mencapai Rp13,44 triliun (bruto), tumbuh 61,0% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) ke dalam ekosistem Grab dan OVO. Lebih dari 60% dari total 7 juta nasabah Superbank merupakan pengguna dari kedua platform tersebut.

Kekuatan neraca perusahaan juga semakin kokoh. Total aset Superbank per Juni 2026 mencapai Rp27,01 triliun, meningkat 26,9% dibanding posisi Desember 2025 sebesar Rp21,28 triliun. Sementara itu, total liabilitas tercatat sebesar Rp18,75 triliun dan total ekuitas berada di level Rp2,26 triliun.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 89,1% yoy mencapai Rp15,93 triliun. Pertumbuhan simpanan nasabah ini memperkuat profil likuiditas perusahaan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Kualitas aset tetap terjaga di tengah ekspansi yang pesat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross membaik menjadi 1,6% dari 2,7% pada periode yang sama tahun lalu. Struktur permodalan juga sangat kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 74,5%. Selain itu, Pre-Tax Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 5,7% dari 1,2% pada Semester I 2025.

- Advertisement -

Artikel Terkait

DYAN Bukukan Laba Bersih Rp42,7 Miliar di Semester I-2026, Melonjak 122%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dyandra Media International Tbk (DYAN)...

Kinerja Solid, Laba Bersih Dyandra Media (DYAN ) Melonjak 122% pada Semester I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) mencatat...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru