STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Suparma Tbk (SPMA) sedang berupaya keras memenuhi aturan Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan kertas ini harus memastikan saham publik atau free float mereka minimal mencapai 15%.
Salah satu langkah yang diambil adalah pengurangan porsi kepemilikan oleh pemegang saham pengendali. Dikutip Rabu (11/6/2026), PT Graha Inti Harapan (GIH) baru saja menjual jutaan lembar saham SPMA.
Corporate Secretary SPMA, Alberta Angela, menjelaskan transaksi ini terjadi pada 9 Juni 2026. GIH melepas sebanyak 20 juta lembar saham.
Harga penjualan dipatok pada Rp190 per saham. Jika dihitung, nilai transaksi ini mencapai Rp3,8 miliar.
“Transaksi ini merupakan langkah untuk memenuhi ketentuan BEI perihal minimum Free Float 15%,” tulis Angela dalam laporan tertulisnya.
Sebelum transaksi, GIH memiliki 437.754.302 lembar saham atau 10,68%. Setelah menjual 20 juta lembar, kepemilikan GIH kini tersisa 417.754.302 lembar saham atau setara 10,19%.
Penjualan saham oleh GIH ini berdampak pada kepemilikan tidak langsung para petinggi SPMA. Pasalnya, GIH dimiliki oleh jajaran direksi dan komisaris perusahaan.
Berdasarkan data perusahaan, Welly yang menjabat Presiden Komisaris SPMA memiliki 85% saham di GIH. Secara total, Welly menguasai 79,57% saham SPMA melalui berbagai perusahaan seperti PT Gloriajaya Gempita dan PT Pacific Star Synergy.
Selain Welly, ada tiga anggota direksi lain yang memiliki saham di GIH, masing-masing sebesar 5,00%. Mereka adalah Presiden Direktur Edward Sopanan, serta dua Direktur SPMA yaitu Joseph Sulaiman dan Barli Leoponco.
Berkat kepemilikan di GIH tersebut, Edward, Joseph, dan Barli kini memiliki saham tidak langsung di SPMA masing-masing sebesar 0,51%.
Hingga saat ini, SPMA terus memantau komposisi saham agar sesuai dengan aturan pasar modal. Langkah divestasi ini diharapkan bisa meningkatkan jumlah saham yang beredar di masyarakat luas

