spot_img

Penjualan Tembus Rp33,8 Triliun, Laba Bersih HRTA Melesat 100,8% di Paruh Pertama 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencetak kinerja keuangan berkilau  sepanjang paruh pertama 2026. Emiten manufaktur dan perdagangan perhiasan emas ini membukukan laba bersih sebesar Rp700,01 miliar pada semester I 2026.

Angka laba ini melonjak tajam 100,86% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp348,51 miliar. Pertumbuhan laba yang signifikan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan yang sangat masif.

Menurut laporan keuangan per Juni 2026 yang dipublikasikan pada akhir Juli 2026, penjualan neto HRTA melesat 124,6% menjadi Rp33,81 triliun. Pada periode yang sama tahun 2025, Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp15,05 triliun.

Kontributor utama pendapatan masih didominasi oleh segmen grosir (wholesaler) yang menyumbang Rp30,19 triliun. Selanjutnya, segmen toko retail berkontribusi sebesar Rp3,48 triliun. Adapun pendapatan dari pasar ekspor tercatat sebesar Rp9,09 miliar.

Seiring dengan lonjakan penjualan, beban pokok pendapatan Perseroan ikut terkerek naik menjadi Rp32,56 triliun dari sebelumnya Rp14,30 triliun. Meskipun beban membengkak, laba bruto HRTA tetap tumbuh positif menjadi Rp1,25 triliun dibanding Rp746,84 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi biaya operasional, HRTA mencatatkan beban penjualan sebesar Rp54,87 miliar, meningkat dari Rp11,34 miliar tahun lalu. Beban umum dan administrasi juga mengalami kenaikan menjadi Rp137,64 miliar dari Rp112,59 miliar. Namun, manajemen berhasil melakukan efisiensi pada beban keuangan yang turun menjadi Rp165,60 miliar dari sebelumnya Rp174,62 miliar.

Dalam surat pernyataan direksi, Sandra Sunanto, Direktur Utama HRTA dan Ong Deny, Direktur, memberikan jaminan atas validitas data tersebut. “Semua informasi dalam laporan keuangan telah dimuat secara lengkap dan benar,” tegas Sandra dan Deny dalam keterbukaan informasi dikutip Jumat (31/7/2026).

Meninjau kekuatan neraca, Hartadinata Abadi memiliki total aset sebesar Rp11,35 triliun per 30 Juni 2026. Posisi aset ini menurun 9,9% jika dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp12,60 triliun. Penurunan aset dipengaruhi oleh berkurangnya saldo kas dan bank serta penurunan nilai persediaan.

Total liabilitas Perseroan juga terpantau turun menjadi Rp7,60 triliun per Juni 2026, dari posisi Desember 2025 yang mencapai Rp9,37 triliun. Penurunan liabilitas didorong oleh pelunasan sejumlah utang bank jangka pendek. Sementara itu, kekuatan modal perusahaan semakin solid dengan kenaikan total ekuitas menjadi Rp3,75 triliun dari sebelumnya Rp3,23 triliun.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bank Neo Commerce (BBYB) Raih Laba Rp294,85 Miliar di Semester I 2026, Melaju 6,8%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)...

Kinerja Bank Jatim (BJTM) Makin ‘Joss’, Laba Semester I 2026 Meroket 53,49%

STOCKWATCH.ID (SURABAYA) – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru