STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham perusahaan. Emiten telekomunikasi milik negara ini menyiapkan dana fantastis hingga Rp4 triliun untuk melancarkan aksi tersebut.
Kabar ini terungkap dalam laporan pengkinian keterbukaan informasi perusahaan. SVP Corporate Secretary Telkom, Jati Widagdo menyampaikan informasi tersebut kepada publik pada Kamis (4/6/2026).
“Jumlah nilai keseluruhan Pembelian Kembali Saham diperkirakan sebanyak-banyaknya sebesar Rp4.000.000.000.000 (empat triliun Rupiah),” tulis Jati dalam dokumen tersebut, dikutip Jumat (5/6/2026).
Telkom menegaskan seluruh dana buyback berasal dari kas internal perusahaan. Dana tersebut bukan berasal dari hasil penawaran umum, pinjaman, atau utang dalam bentuk apa pun. Manajemen memastikan langkah ini tidak akan mengganggu kemampuan keuangan perusahaan dalam membayar kewajiban yang jatuh tempo.
Tujuan utama dari buyback ini adalah memperkuat kepercayaan pasar terhadap nilai jangka panjang perusahaan. Telkom ingin menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dengan fundamental mereka.
Aksi borong saham ini akan dilakukan secara bertahap maupun sekaligus. Pelaksanaannya bisa melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) atau di luar bursa. Namun, manajemen membatasi jumlah saham yang dibeli maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor. Selain itu, jumlah saham yang beredar di publik (free float) setelah buyback tidak boleh kurang dari 15%.
Berikut adalah perkiraan jadwal buyback saham TLKM:
Pengumuman RUPS dan Keterbukaan Informasi: 1 Mei 2026.
Pengkinian Keterbukaan Informasi: 4 Juni 2026.
Persetujuan RUPS: 8 Juni 2026.
Periode Buyback: 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Manajemen memproyeksikan aksi ini tidak akan menurunkan pendapatan perusahaan. Telkom mengeklaim memiliki modal kerja dan arus kas (cash flow) yang cukup untuk mendanai buyback sekaligus menjalankan kegiatan operasional serta pengembangan usaha.
“Perseroan berkeyakinan pelaksanaan transaksi Pembelian Kembali Saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha Perseroan,” demikian bunyi keterangan tertulis yang ditandatangani Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra.
Meski tidak memengaruhi pendapatan, aksi ini akan menurunkan aset dan ekuitas perusahaan sebesar dana yang dikeluarkan. Berdasarkan proforma laporan keuangan per 31 Desember 2025, total aset Telkom diperkirakan turun dari Rp287.759 triliun menjadi Rp282.280 triliun.
Total ekuitas juga diprediksi turun dari Rp150.537 triliun menjadi Rp145.058 triliun. Menariknya, laba bersih per saham atau Earnings per Share (EPS) perusahaan justru diproyeksikan naik dari Rp179,8 menjadi Rp183,1 setelah buyback dilakukan.
Telkom juga telah menetapkan batasan harga. Jika buyback dilakukan melalui bursa, harga penawaran harus lebih rendah atau sama dengan harga transaksi sebelumnya. Jika dilakukan di luar bursa, harganya maksimal sebesar rata-rata harga penutupan harian di BEI selama 90 hari terakhir.
Sebagai informasi tambahan, saham yang telah dibeli kembali (treasury shares) tidak memiliki hak suara dalam RUPS. Saham tersebut juga tidak berhak mendapatkan dividen selama masih disimpan oleh perusahaan.
Berdasarkan aturan, pihak-pihak internal seperti direksi, komisaris, karyawan, dan pemegang saham utama dilarang melakukan transaksi saham TLKM pada hari yang sama saat perusahaan melakukan buyback di bursa. Pihak yang memiliki akses informasi orang dalam (insider information) juga terkena larangan yang sama.

