spot_img

Wall Street Menguat, S&P 500 Tembus Level 7.600 untuk Pertama Kalinya

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kompak menguat pada penutupan perdagangan hari Rabu (3/6/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (4/6/2026) WIB. Investor terus memantau perkembangan hubungan AS-Iran serta pergerakan saham teknologi raksasa.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York naik 228,91 poin atau 0,45% ke level 51.307,79. Indeks S&P 500 (SPX) juga terangkat 0,13% dan berakhir di posisi 7.609,78. Pencapaian ini merupakan rekor pertama kalinya indeks tersebut ditutup di atas ambang batas 7.600. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat tipis 0,03% menjadi 27.093,90.

Sektor semikonduktor menjadi motor penggerak utama pasar. Saham Marvell Technology melonjak 32% setelah CEO Nvidia Jensen Huang memberikan komentar positif. Saham Hewlett Packard Enterprise (HPE) juga terbang lebih dari 19% usai merilis prospek keuangan yang melampaui estimasi pasar.

Huang memberikan penjelasan mengenai peran krusial perusahaan tersebut dalam ekosistem pusat data. Menurutnya, pemisahan masalah komputasi ke banyak bagian membutuhkan peran konektivitas.

“Saat Anda mengambil masalah komputasi, dan Anda memecahnya menjadi banyak bagian, dan Anda mendistribusikannya ke seluruh pusat data, yang diperlukan adalah konektivitas,” ujar Jensen Huang. Ia menilai hal tersebut menjadi alasan Marvell sangat penting.

Di sisi lain, saham Alphabet justru merosot hampir 4% dan membebani indeks S&P 500. Induk perusahaan Google tersebut berencana mengumpulkan dana USD 80 miliar melalui penjualan saham. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), termasuk investasi USD 10 miliar dari Berkshire Hathaway.

David Krakauer, Vice President of Portfolio Management di Mercer Advisors, menilai pasar saat ini dalam kondisi stabil. Para pelaku pasar masih menaruh harapan pada proses diplomasi global.

“Pasar tetap bertahan,” kata David Krakauer. Ia mengamati semua orang masih mengharapkan semacam kesepakatan dengan Iran, namun segalanya tampak cukup stabil.

Meski demikian, Krakauer mengingatkan investor untuk tetap waspada. Ia menyoroti kenaikan pasar yang hanya didorong oleh segelintir saham teknologi tertentu. “Saat Anda melihat dorongan sempit seperti itu, Anda hanya ingin berhati-hati,” tambah Krakauer.

Ketegangan geopolitik turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,74% menjadi USD 93,76 per barel. Sementara itu, minyak Brent ditutup di level USD 96 per barel.

Sentimen pasar dipengaruhi laporan media Iran mengenai penghentian pertukaran pesan dengan AS. Pihak Iran juga mengancam akan memblokir total Selat Hormuz. Aksi ini merupakan respons atas serangan militer di wilayah Lebanon dan Gaza.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan melalui wawancara telepon dengan CNBC. Ia mengaku tidak keberatan jika perundingan damai berakhir. “Saya sangat tidak peduli,” tegas Trump.

Namun, melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump memberikan informasi berbeda. Ia menyebut telah melakukan pembicaraan produktif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Melalui unggahan lain, Trump menambahkan diskusi dengan pihak Iran masih berlanjut dengan kecepatan yang pesat.

- Advertisement -

Artikel Terkait

SINI Incar Rp3,6 Triliun Lewat Rights Issue, Siap Caplok Anak Usaha Petrosea

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menggelar...

Dividen Tunai MTLA Rp74,25 Miliar Cair Awal Juli 2026, Catat Jadwalnya!

STOCKWATCH (JAKARTA) – PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) berencana...

Diakuisisi Saiko, NAYZ Siap Tinggalkan Bisnis Makanan Bayi dan Fokus ke Bisnis Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ)...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru