STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (6/6/2026) WIB. Aksi jual besar-besaran terjadi pada saham teknologi dan semikonduktor setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 695,15 poin atau 1,35% ke level 50.866,78. Sementara itu, indeks S&P 500 merosot 2,64% menjadi 7.383,74. Adapun Nasdaq Composite anjlok 4,18% ke posisi 25.709,43.
Pelemahan tersebut mengakhiri reli pasar saham AS yang telah berlangsung selama sembilan pekan berturut-turut. Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, terutama saham-saham produsen chip.
Indeks Philadelphia Semiconductor tercatat merosot hampir 9%. Sejumlah saham unggulan di sektor tersebut juga mengalami penurunan tajam, antara lain Nvidia, AMD, Intel, Broadcom, Qualcomm, dan Arm Holdings.
Sentimen pasar memburuk setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan ekonomi AS menciptakan 172.000 lapangan kerja baru sepanjang Mei 2026. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang berada di kisaran 85.000 pekerjaan.
Pada saat yang sama, tingkat pengangguran tetap bertahan di level 4,3%. Data tersebut memperkuat pandangan pelaku pasar bahwa ekonomi AS masih cukup kuat. Kondisi itu dinilai mengurangi peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Berdasarkan data pasar berjangka, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember meningkat signifikan dibandingkan sehari sebelumnya.
Kenaikan ekspektasi suku bunga juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Yield Treasury tenor 10 tahun melonjak ke sekitar 4,54%. Sementara yield Treasury tenor dua tahun mencapai 4,16%, yang merupakan level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Selain faktor suku bunga, pasar juga dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian bagi investor. Di tengah pelemahan pasar secara umum, beberapa saham masih mampu mencatatkan kenaikan.
Saham Cooper Companies menguat setelah membukukan kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan analis. Sebaliknya, saham Lululemon tertekan setelah perusahaan memangkas proyeksi kinerja tahunannya.Volume transaksi di bursa saham AS mencapai sekitar 22,9 miliar saham. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume perdagangan harian dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan tingginya aktivitas jual beli di tengah gejolak pasar.

