STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (10/6/2026) WIB. Penurunan ini mengikuti aksi jual besar-besaran di pasar saham global. Investor juga mulai khawatir terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) tahun ini.
Mengutip CNBC International, harga emas spot turun 0,7% menjadi USD 4.298,75 per ons troi. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat anjlok lebih dari 1% pada sesi yang sama. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus jatuh 0,9% ke posisi USD 4.323,90 per ons troi.
Kondisi pasar saham ikut menekan pergerakan emas. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 0,9%. Indeks S&P 500 juga terpantau melemah 0,4%.
Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, memberikan analisanya terkait situasi pasar. Ia melihat adanya kecenderungan investor menghindari aset berisiko.
“Para pedagang sedikit gugup dengan pasar di sini… Semua pasar secara keseluruhan masuk ke mode risk-off. Saya pikir kondisi risk-off saat ini menjadi alasan mengapa Anda melihat penurunan pada emas,” ujar Bob Haberkorn.
Haberkorn menambahkan pelaku pasar masih menunggu kepastian dari bank sentral AS atau The Fed. Kebijakan suku bunga menjadi faktor kunci pergerakan harga ke depan.
“Emas dan perak tetap berada di bawah tekanan sampai kita mendapatkan panduan yang lebih jelas dari The Fed,” tambah Haberkorn.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data ekonomi penting pekan ini. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Mei akan keluar pada hari Rabu. Disusul kemudian oleh data Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis.
Lembaga keuangan Commerzbank memberikan catatan terkait proyeksi harga emas. Analis mereka memprediksi harga bisa jatuh lebih dalam jika data inflasi menunjukkan kenaikan di luar perkiraan.
“Jika data inflasi AS untuk bulan Mei juga mengejutkan ke arah atas pada hari Rabu, harga emas kemungkinan akan turun lebih jauh. Hal ini juga meningkatkan potensi pemulihan di akhir tahun nanti,” tulis Commerzbank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pedagang kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sebesar 70%. Prediksi ini menguat seiring data tenaga kerja yang tetap kokoh pekan lalu.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah. Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain. Langkah ini diambil menyusul seruan damai dari Presiden Donald Trump.
Kabar damai tersebut sempat membuat harga minyak dunia melandai. Harga minyak yang tinggi biasanya memicu inflasi. Meskipun emas sering menjadi lindung nilai inflasi, suku bunga yang tinggi cenderung membebani logam mulia karena tidak memberikan bunga.
Tren penurunan harga juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot jatuh 3,2% menjadi USD 65,98 per ons troi. Platinum turun 1,1% ke level USD 1.736,08 per ons troi. Sementara itu, harga paladium merosot 2,5% ke posisi USD 1.234,93 per ons troi.

