STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada akhir perdagangan Rabu (10/06/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (11/06/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menyerang Iran dengan sangat keras. Pasar kini khawatir perang skala penuh akan kembali pecah.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik 1,8% menjadi 93,10 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,07%. Minyak WTI berakhir pada posisi 90,03 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Trump menyatakan Iran harus membayar harga karena terlalu lambat menegosiasikan kesepakatan damai. Ia menyampaikan ancaman serangan tersebut dalam pidato di televisi pada hari Rabu.
“Kami memukul mereka dengan keras kemarin, dan kami akan memukul mereka dengan keras lagi hari ini,” ujar Trump. “Kami akan menyerang mereka dan menyerang mereka dengan sangat keras.”
Ketegangan meningkat setelah militer AS menyerang target militer Iran di dekat Selat Hormuz. Pasukan Komando Sentral AS (Centcom) melancarkan serangan pada Selasa malam. Langkah ini merupakan balasan setelah helikopter Apache milik Angkatan Darat AS ditembak jatuh sehari sebelumnya.
Trump mengonfirmasi penembakan helikopter tersebut melalui akun Truth Social miliknya. Ia menegaskan AS perlu mengambil tindakan balasan atas insiden itu.
“Kedua pilot yang terlibat dalam serangan itu selamat dan tidak terluka,” tulis Trump. “Meskipun demikian, Amerika Serikat secara terpaksa harus merespons serangan ini.”
Di sisi lain, Trump mengeklaim militer AS secara rahasia telah membantu 200 kapal komersial. Kapal-kapal tersebut membawa lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz. Ia menyebut operasi rahasia ini berhasil mencegah lonjakan harga minyak yang lebih tinggi.
Lembaga konsultan Rystad Energy mencatat gangguan pasokan minyak saat ini adalah yang terparah dalam sejarah modern. Penutupan produksi mencapai 11,8 juta barel per hari dari enam produsen di wilayah Teluk.
Rystad memperkirakan total kerugian produksi kumulatif telah mencapai 1 miliar barel. Lembaga ini memperingatkan setiap bulan tambahan konflik dapat menghapus 350 juta barel produksi minyak lainnya

