STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup beragam pada akhir perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (25/7/2026) WIB. Investor terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah serta aksi jual besar-besaran pada saham chip.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menguat 235,60 poin atau 0,46% ke level 51.947,25. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik tipis 0,05% dan berakhir di posisi 7.411,98. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, melemah 0,64% menjadi 24.975,82.
Kenaikan Dow Jones mendapat dorongan dari saham Apple yang melonjak 3,5%. Namun, Nasdaq tertekan oleh penurunan tajam sektor semikonduktor. Para pemodal tampak berhati-hati menjelang akhir pekan karena kekhawatiran eskalasi serangan terhadap Iran.
Sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan Pakistan sedang mengupayakan jalur negosiasi damai antara AS dan Iran. Upaya ini kabarnya didorong oleh China. Meski begitu, sumber menyebut hambatan untuk berdialog dengan AS masih sangat tinggi.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan akan segera membuat keputusan terkait serangan besar-besaran ke Iran. Hal ini menyusul konflik Timur Tengah yang meluas ke wilayah Laut Merah. Trump menyebut serangan tersebut akan lebih besar dari yang pernah ada.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir membuat keputusan. Kami semua sudah siap untuk itu,” ujar Trump dalam wawancara dengan Axios.
The New York Times melaporkan Trump sedang bertemu dengan penasihat utama dan anggota senior kabinet. Pertemuan tersebut bertujuan memutuskan perlu atau tidaknya peningkatan serangan AS terhadap Iran. Selama dua minggu terakhir, pasukan AS telah menyerang sasaran Iran selama 13 malam berturut-turut.
Bill Northey, Investment Director di U.S. Bank Asset Management Group, menilai situasi di Timur Tengah berdampak besar pada ekonomi. Khususnya terkait hambatan aliran bahan bakar minyak dunia.
“Apa yang terjadi di Timur Tengah berpotensi menciptakan dampak ekonomi nyata terkait pembatasan aliran hidrokarbon dan kemampuan penyerapan ekonomi global untuk menghadapinya,” kata Bill.
Meski harga minyak sempat melonjak, Bill memprediksi suku bunga akan tetap stabil pekan depan. Ia meyakini Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh tetap pada komitmen mengendalikan inflasi.
“Ketua Fed Kevin Warsh sangat jelas tentang mengembalikan tingkat inflasi ekonomi AS ke target mereka dan menggunakan itu sebagai pilihan, dan kami mempercayai kata-katanya,” tambah Bill.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun hampir 4% menjadi USD 96,78 per barel. Sebelumnya, harga Brent sempat menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga jatuh 3% ke level USD 89,31 per barel.
Sektor teknologi mengalami hari yang sulit, terutama saham pembuat chip. Saham Intel anjlok hampir 8% meskipun hasil kuartal kedua mereka melebihi ekspektasi Wall Street. Saham Broadcom turun 2,7%, Advanced Micro Devices (AMD) merosot 3,3%, dan Micron Technology terjun 7%.
Bill mengamati adanya aliran dana yang keluar masuk secara drastis di sektor chip. Menurutnya, fluktuasi ini dipengaruhi oleh perubahan sentimen harian para investor.
Secara keseluruhan, bursa saham AS mencatatkan kinerja mingguan yang negatif. S&P 500 dan Nasdaq mengalami kerugian dua minggu berturut-turut dengan penurunan masing-masing 0,6% dan 2,1%. Indeks Dow Jones juga melemah 0,4% sepanjang pekan ini

