STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memastikan tidak mengubah Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin (bps) sepanjang Mei-Juni 2026. Perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8%-10% hingga akhir tahun.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Vera Eve Lim, mengatakan kinerja kredit BCA pada semester I 2026 masih sesuai dengan target. Hingga Juni 2026, kredit tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 4,3% secara year-to-date (YtD) dibanding posisi Desember 2025.
“Kita tetap mempertahankan target daripada pertumbuhan kredit di RBB itu ada di kisaran 8 sampai 10%. Secara keseluruhan kita masih on target mempertahankan target untuk sepanjang tahun 2026,” kata Vera dalam paparan kinerja semester I 2026 di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Vera menjelaskan, pertumbuhan kredit pada kuartal II 2026 mencapai 4,2% dibanding kuartal sebelumnya. Menurut dia, pencapaian tersebut menjadi fokus utama BCA di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
“Untuk BCA kita mengutamakan mendapatkan pertumbuhan yang lebih bagus di kuartal kedua. Jadi kuartal kedua dibanding kuartal pertama pertumbuhannya 4,2%,” ujarnya.
Selain target kredit, BCA juga tidak mengubah target penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang telah ditetapkan dalam RBB.
Data perseroan menunjukkan total kredit BCA per Juni 2026 mencapai Rp1.036 triliun, naik dari Rp959 triliun pada Juni 2025. Sementara dana pihak ketiga mencapai Rp1.284 triliun, terdiri atas dana murah (CASA) sebesar Rp1.082 triliun dan deposito berjangka Rp202 triliun.
Rasio CASA terhadap total pendanaan meningkat menjadi 85,2% dari 83,4% pada semester I 2025. CASA sendiri tumbuh 10,2% secara tahunan menjadi Rp1.082 triliun, ditopang kenaikan giro 15,3% menjadi Rp444 triliun dan tabungan 6,9% menjadi Rp638 triliun.
Dari sisi neraca, total aset BCA naik 10,4% menjadi Rp1.661 triliun, sedangkan ekuitas meningkat 3,4% menjadi Rp270 triliun.
Transmisi bunga kredit masih terbatas
Menjawab pertanyaan mengenai dampak kenaikan BI Rate yang telah mencapai 100 bps, Vera mengatakan BCA belum melakukan penyesuaian bunga kredit secara agresif.
“Apakah ada transmisi suku bunga? Tidak… tidak besar sih. Kuartal ke kuartal yield kita naik hanya sedikit, 4 bps. Jadi tidak terlalu material dibandingkan dengan kenaikan dari BI yang 100 bps karena kita utamakan adalah potensi pertumbuhan yang lebih baik,” kata Vera.
Sebagai informasi, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebanyak tiga kali pada Mei hingga Juni 2026 dengan total kenaikan 100 bps hingga mencapai 5,75%. Pada Rapat Dewan Gubernur 21-22 Juli 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Gregory Hendra Lembong, menambahkan kenaikan bunga kredit tidak langsung mengikuti kenaikan BI Rate karena penyesuaian dilakukan saat fasilitas kredit jatuh tempo.
“Kenaikan Bank Indonesia ini kan baru di bulan Mei. Pada saat kita melihat loan ke customer itu bunga kreditnya harus menunggu dulu loan yang ada jatuh tempo. Jadi kenaikannya pun akan bertahap,” ujar Hendra.
Ia menegaskan BCA juga tidak menaikkan bunga kepada seluruh debitur.
“Kita tidak menaikkan di semua nasabah. Kita hanya menaikkan nasabah yang selektif yang kita lihat dari sisi bisnis masih bisa untuk kita naikkan. Untuk nasabah yang tentu rate-nya sudah tinggi, kita tidak naikkan,” kata Hendra.
Pertumbuhan kredit ditopang sektor bisnis
Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, John Kosasih, mengatakan pertumbuhan kredit semester I 2026 terutama berasal dari sejumlah sektor usaha yang masih mencatat ekspansi.
“Pertumbuhan kredit kita secara tahunan kira-kira sekitar 8 persenan dan year-to-date sekitar 4,3-an. Ini ditopang dengan beberapa industri yang mengalami pertumbuhan dengan baik di tahun 2026,” ujar John.
Menurut dia, sektor yang mencatat pertumbuhan antara lain infrastruktur yang berkaitan dengan teknologi, mineral, pertanian, perikanan, refinery edible oil, serta pertambangan non-minyak dan gas.
Dari sisi komposisi, kredit korporasi menjadi penyumbang terbesar dengan outstanding Rp513,4 triliun, naik 13,6% secara tahunan. Kredit komersial tumbuh 7,2% menjadi Rp153,9 triliun, sedangkan kredit UKM naik 6% menjadi Rp134,6 triliun.
Sebaliknya, kredit konsumer turun 2,4% menjadi Rp221 triliun. Di dalamnya, kredit pemilikan rumah (KPR) masih tumbuh 4,8% menjadi Rp144,3 triliun, kredit kendaraan turun 21,5% menjadi Rp51,3 triliun, sedangkan personal loan naik 8,2% menjadi Rp25,4 triliun.
Secara sektoral, portofolio kredit terbesar BCA berada pada industri manufaktur sebesar Rp229,5 triliun, perdagangan Rp200,3 triliun, rumah tangga Rp160 triliun, jasa bisnis Rp145,6 triliun, transportasi Rp89,3 triliun, konstruksi Rp44,5 triliun, dan pertanian Rp44,2 triliun.
Aplikasi KPR meningkat
Vera mengatakan pertumbuhan KPR memang sedikit melambat pada semester I 2026. Namun, BCA melihat adanya peningkatan permohonan kredit setelah penyelenggaraan Expo KPR.
“KPR itu sedikit melambat. Secara keseluruhan kita harapkan KPR akan terus bertumbuh di semester kedua. Untuk Expo tahun ini aplikasi kredit memang meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kalau kami melihat dari sisi aplikasi, aplikasi kredit untuk korporasi memang meningkat dibanding tahun sebelumnya di kisaran cukup tinggi, termasuk juga untuk KKB,” ujar Vera.
Nasabah Paylater bertambah
Sementara itu, Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Santoso, mengatakan jumlah pengguna layanan Paylater BCA terus bertambah dengan kualitas kredit yang tetap terjaga.
“Kalau kami lihat secara customer base sendiri tetap tumbuh, yaitu kami tumbuh hampir 8%. Namun satu hal yang unik, rata-rata customer menggunakannya justru di Paylater yang satu bulan,” kata Santoso.
Ia menambahkan kualitas kredit Paylater relatif stabil dibanding tahun lalu.
“Selama ini kualitas kredit dibandingkan dengan tahun lalu year-on-year relatif terjaga. Portofolio Paylater tetap terjaga dan pertumbuhannya pun juga customer base-nya juga terjaga,” ujarnya.
Laba bersih naik, kualitas aset membaik
Pada semester I 2026, laba bersih BCA mencapai Rp29,5 triliun, meningkat 1,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan operasional naik 2,2% menjadi Rp55,8 triliun, sementara laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 2,5% menjadi Rp38,4 triliun.
Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun menjadi 1,9% dari 2,2% pada semester I 2025. Loan at Risk (LAR) juga membaik menjadi 4,9% dari 5,7% setahun sebelumnya.
Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 26,8%, loan to deposit ratio (LDR) 78,7%, dan cost of credit setelah recovery turun menjadi 0,3%.

