spot_img

Wall Street Tutup Pekan dengan Kenaikan, Kerugian Mingguan Berkurang Drastis

 STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street menunjukkan performa yang solid, hampir menutupi seluruh kerugian mingguan. Pada penutupan perdagangan Jumat (9/8/2024) waktu setempat atau Sabtu pagi (10/8/2024) WIB, pasar saham Amerika Serikat itu akhirnya berhasil bangkit setelah mengalami guncangan hebat di awal pekan..

Mengutip CNBC International, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York, AS mencatat kenaikan tipis 51,05 poin atau 0,13%, menjadi 39.497,54. Segendang sepenarian, Indeks S&P 500 (SPX) mendaki 24,85 poin atau 0,47% mencapai 5.344,16. Hal senada juga terjadi pada Indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat 85,28 poin atau 0,51% menyentuh 16.745,30.

Meski sempat terpuruk, secara keseluruhan S&P 500 hanya turun 0,04% secara mingguan. Pada sesi perdagangan Jumat, indeks ini bahkan sempat menunjukkan tren positif sebelum akhirnya kehilangan sebagian keuntungannya. Indeks Dow dan Nasdaq juga mencatat penurunan mingguan masing-masing sebesar 0,6% dan 0,18%.

Pekan ini memang menjadi salah satu minggu paling menegangkan di tahun 2024 bagi pasar saham. Pada hari Senin, Dow Jones sempat anjlok hingga 1.000 poin, sementara S&P 500 kehilangan 3%, mencatat hari terburuknya sejak tahun 2022. Penurunan ini dipicu oleh data payroll AS yang mengecewakan dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve terlambat dalam pemotongan suku bunga. Selain itu, aksi hedge fund yang menghentikan perdagangan mata uang populer juga turut mempengaruhi.

Namun, situasi mulai membaik setelah data klaim pengangguran mingguan AS yang positif dirilis pada hari Kamis. Hal ini memicu lonjakan di pasar, di mana S&P 500 melonjak 2,3% dan Dow naik sekitar 683 poin. Nasdaq Composite, yang didominasi oleh saham-saham teknologi, juga berhasil mencatat kenaikan hampir 2,9%.

Pada titik terendah hari Senin, S&P 500 sempat terjun hampir 10% dari level tertinggi sepanjang masanya. Nasdaq Composite bahkan masuk ke wilayah koreksi penuh dengan penurunan lebih dari 10%. Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang sering digunakan sebagai ukuran ketakutan di Wall Street, mencapai level tertinggi yang terakhir kali terlihat saat pandemi Covid-19 dan Krisis Keuangan Besar.

Para investor pun memanfaatkan penurunan harga saham untuk melakukan pembelian, dengan keyakinan bahwa krisis atau resesi baru tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Penurunan awal pekan lebih disebabkan oleh aksi jual hedge fund yang menghentikan taruhan jangka panjang pada yen Jepang yang murah, daripada ancaman langsung terhadap ekonomi.

Volatilitas pekan ini tidak hanya mempengaruhi pasar saham, tetapi juga pasar obligasi. Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun sempat turun di bawah 3,70%, sebelum kembali naik ke 4% pada hari Kamis, dan berakhir di sekitar 3,94% pada hari Jumat.

Menurut CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, volatilitas perdagangan adalah hal yang biasa di akhir musim panas, ketika aliran informasi minim dan musim laporan keuangan mulai mereda. “Sebagian besar aksi jual di pasar disebabkan oleh ‘tema hedge fund’ daripada keputusan dari investor jangka panjang,” ujar Hatfield.

Hatfield menambahkan bahwa volatilitas dan rebound yang cepat adalah bagian dari perilaku pasar yang normal pada bulan Agustus dan September, terutama ketika pasar tipis dan hedge fund bertindak agresif. “Aktivitas pasar baru-baru ini tidak mempengaruhi pandangan jangka panjang kami,” tutupnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Sebut Perang Segera Usai, Keyakinan Damai AS-Iran Capai 85%

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON D.C) – Amerika Serikat (AS) dan Iran...

Tembus 1 Triliun USD, Elon Musk Jadi Manusia Terkaya Sepanjang Sejarah Berkat IPO SpaceX

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Elon Musk mencetak sejarah baru...

Debut Fantastis SpaceX di Nasdaq, Saham Meroket 19% ke Level USD 161

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, Space...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru