STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat mengakhiri perang yang telah berlangsung selama hampir empat bulan. Kesepakatan ini mencakup penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Mengutip CNBC, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan kabar damai tersebut pada Minggu (14/6/2026). Pakistan bertindak sebagai mediator atau penengah dalam konflik ini.
“Melalui pembicaraan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah DICAPAI,” ujar Sharif dalam unggahannya di media sosial X.
Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi tercapainya kesepakatan tersebut tak lama kemudian. Lewat platform Truth Social, ia memastikan dokumen perdamaian sudah lengkap.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang sudah lengkap,” tulis Trump.
Trump segera memerintahkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa sistem tol. Ia juga mencabut blokade Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah tersebut.
“Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz bebas tol. Secara bersamaan, saya mengizinkan penghapusan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” kata Trump. Ia menambahkan pesan semangat kepada pelaku industri energi, “Kapal-kapal di dunia, hidupkan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!”
Berita ini langsung memicu reaksi besar di pasar komoditas. Harga minyak mentah AS jatuh 4,8% ke level USD 80,80 per barel pada Minggu malam. Minyak mentah Brent juga turun 3,9% menjadi USD 83,89 per barel.
Selat Hormuz merupakan rute pengiriman minyak paling penting di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini. Jalur tersebut tertutup sejak akhir Februari akibat konflik.
Sebaliknya, bursa saham menyambut positif kabar perdamaian ini. Kontrak berjangka (futures) Dow Jones Industrial Average naik 334 poin atau 0,7%. S&P 500 futures naik 0,9% dan Nasdaq 100 futures melonjak 1,4%.
Pasar modal juga mendapat dorongan dari kesuksesan penawaran umum perdana (IPO) SpaceX. Perusahaan roket ini mencatat nilai pasar di atas USD 2 triliun setelah sahamnya melonjak lebih dari 19% pada Jumat lalu.
Evan Schlossman, prinsipal di SuRo Capital, menilai kesuksesan SpaceX menjadi sinyal positif bagi investor. Hal ini menunjukkan tingginya minat pada inovasi dan teknologi.
“IPO SpaceX yang sukses secara umum merupakan sinyal positif bagi minat investor yang lebih luas terhadap inovasi dan teknologi,” tutur Schlossman.
Kondisi ekonomi global memang sedang tertekan inflasi tinggi akibat perang. Inflasi tahunan Amerika Serikat menyentuh 4,2% pada Mei. Angka ini merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Bank Sentral Eropa (ECB) bahkan menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin pada Kamis lalu. Ini merupakan kenaikan bunga pertama ECB sejak 2023 untuk meredam lonjakan harga energi.
Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments, melihat fondasi ekonomi masih cukup kuat. Ia menilai kenaikan harga minyak selama ini tidak merembet terlalu jauh ke sektor lain.
“Laporan inflasi yang kami terima tidak menunjukkan harga minyak yang lebih tinggi benar-benar mendorong area lain. Fondasi ekonomi masih cukup kuat,” ujar Martin.
Lars Barstad, CEO perusahaan kapal tanker Frontline, merasa optimis lalu lintas kapal akan pulih dengan cepat. Menurutnya, kesepakatan untuk tidak menyerang pelayaran menjadi kunci utama.
“Saya sangat optimis begitu keadaan berbalik dan AS serta Iran menemukan semacam kesepakatan, setidaknya untuk tidak menyerang pelayaran, transit tersebut akan berlanjut dengan cukup cepat,” kata Barstad.
Draf perdamaian setebal 14 halaman mencakup poin penting lainnya. AS akan mencabut sanksi minyak dan Iran berkomitmen membuka penuh Selat Hormuz dalam 30 hari.
Seremoni penandatanganan akan dilaksanakan pada Jumat (19/6/2026) di Swiss. Pekan ini investor juga memantau pertemuan Federal Reserve. Data FedWatch CME menunjukkan peluang 98% suku bunga AS tidak akan berubah.

