spot_img

IHSG Menguat Saat Bursa Global Tertekan, Praktisi Pasar Modal Ungkap Pemicunya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) Pasar saham global tengah berada dalam tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi bubble di sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mampu mencatat penguatan.

Praktisi pasar modal Hans Kwee, mengatakan kekhawatiran investor terhadap sektor teknologi telah memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor di berbagai bursa dunia.

Menurut dia, tingginya belanja modal (capital expenditure/CapEx) perusahaan teknologi raksasa yang dibiayai utang menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini dinilai belum diimbangi kepastian arus pendapatan di masa depan untuk membayar bunga dan pokok pinjaman.

“Perlambatan belanja AI memicu sentimen risk-off secara menyeluruh di pasar keuangan global,” ujar Hans Kwee di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Tekanan tersebut tercermin dari kinerja Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) yang turun lebih dari 18% sepanjang Juli 2026. Indeks tersebut juga telah memasuki zona bearish setelah terkoreksi 20,2% dari posisi puncaknya.

Meski demikian, secara year to date (YTD), indeks acuan industri cip global itu masih membukukan kenaikan hampir 65%. Kinerja tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan indeks S&P 500 yang naik hampir 9% pada periode yang sama.

Selain faktor teknologi, pasar global juga dibebani eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan sentimen risk-off dan mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter global.

Konflik yang kembali memanas berdampak terhadap distribusi energi dunia. Iran menargetkan kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut, sehingga mengganggu pasokan minyak melalui Selat Hormuz yang selama ini menampung sekitar 20% distribusi minyak mentah global.

Di sisi lain, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu. Volume pengiriman minyak dari pelabuhan tersebut melonjak menjadi rata-rata 4 juta barel per hari dalam beberapa pekan terakhir, dibandingkan sekitar 973 ribu barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Disrupsi pasokan energi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi ini juga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh berbagai bank sentral.

Di pasar domestik, nilai tukar rupiah justru berhasil menguat pada akhir pekan meski indeks dolar AS mengalami apresiasi akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Hans Kwee menjelaskan, penguatan rupiah didukung sentimen domestik yang positif. Salah satunya berasal dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan aktivitas dunia usaha meningkat signifikan pada kuartal II-2026.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari keputusan S&P Global Ratings pada 13 Juli 2026 yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

“Keputusan tersebut memberikan kepastian dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik,” kata Hans.

Di tengah koreksi tajam bursa global, IHSG justru mencatat penguatan yang ditopang aksi beli bersih investor asing.

Pada perdagangan sebelumnya, investor asing membukukan net buy di pasar reguler sebesar Rp1,2 triliun dengan total nilai transaksi mencapai Rp13,2 triliun.

Penguatan tersebut menjadi momentum positif setelah pasar modal Indonesia mengalami tekanan arus keluar dana asing selama beberapa bulan terakhir. Meski demikian, secara akumulatif, pasar domestik masih mencatat net foreign sell.

Hans menilai, sentimen positif di pasar saham Indonesia juga ditopang reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI telah menyempurnakan metodologi penentuan High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambahkan indikator dampak harga (price impact). Perubahan tersebut meningkatkan jumlah saham yang masuk kategori HSC menjadi 51 emiten.

Langkah tersebut dinilai menjadi respons konkret terhadap perhatian yang sebelumnya disampaikan MSCI terkait transparansi pasar modal Indonesia.

“Implementasi reformasi pasar modal menjadi bukti positif bagi pengelola dana global menjelang tinjauan indeks MSCI pada November 2026,” ujar Hans Kwee

- Advertisement -

Artikel Terkait

IHSG Sesi I Ditutup Menguat ke Level 6.228,918, Nilai Transaksi Capai Rp8,27 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup...

Direktur RATU Tambah Porsi Kepemilikan, Beli Saham di Atas Harga Pasar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Adrian Hartadi, Direktur PT Raharja Energi...

Nextier Datamate Center Jual 56,43 Juta Saham MGLV, Kantongi Cuan Rp395 Miliar

STOCKWATCH.ID (JKARTA)– PT Nextier Datamate Center mengurangi kepemilikan sahamnya...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru