spot_img

Sempat Melemah, Harga Minyak WTI Berbalik Melonjak 4,9%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak pada akhir perdagangan Selasa (28/7/2026) waktu setempat. Kenaikan tajam ini terjadi setelah pasukan Amerika Serikat (AS) berhasil mencegat serangan mendadak dari Iran.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,9 USD atau 4,9%. Minyak WTI berada pada posisi 83,16 USD per barel pada perdagangan Selasa malam.

Sebelum berita serangan muncul, harga minyak sempat ditutup melemah. Harga minyak mentah Brent turun 4,8% menjadi 84,09 USD per barel. Sementara itu, WTI sempat merosot 4% ke level 79,26 USD per barel pada sesi reguler.

Komando Pusat AS (Centcom) memberikan keterangan terkait situasi keamanan di Timur Tengah. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan rudal ke arah pangkalan militer AS.

“Pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan beberapa rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah,” tulis Centcom melalui unggahan di media sosial X.

Centcom menambahkan serangan tersebut terjadi pada pukul 17.45 waktu setempat. Namun, sistem pertahanan udara Amerika bekerja dengan baik.

“Semua rudal Iran berhasil dicegat,” tulis Centcom.

Kabar ini langsung membalikkan arah pasar minyak. Sebelumnya, harga melandai karena adanya pembicaraan antara Iran dengan Arab Saudi dan Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araqchi sempat melakukan panggilan telepon dengan mitranya dari Saudi dan Oman. Menurut keterangan kementerian, mereka membahas upaya menghilangkan rasa tidak aman di Selat Hormuz.

Seyyed menyebut ketidakamanan tersebut disebabkan oleh tindakan agresif dari Amerika Serikat. Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak dan gas yang sangat vital bagi dunia.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah kabar militer AS kehabisan senjata. Donald menyampaikan hal itu saat menuju Michigan menggunakan Air Force One.

Donald menegaskan militer AS memiliki banyak amunisi. Ia menepis anggapan stok persenjataan mereka sedang menipis.

Analis dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) memberikan pandangannya. Penurunan harga minyak sebelumnya terjadi karena harapan meredanya konflik AS dan Iran.

“Disepakatinya jeda permusuhan AS-Iran tampaknya telah melemahkan ekspektasi konflik akan meluas hingga mencakup serangan signifikan terhadap infrastruktur sipil dan energi,” tulis CBA.

Namun, pihak bank memperingatkan risiko terhadap pasokan energi global tetap tinggi. Perselisihan mengenai jalur pelayaran Selat Hormuz bisa memicu kembali permusuhan.

Analis Goldman Sachs juga memberikan prediksi untuk akhir tahun. Brent diperkirakan bisa turun ke level 80 USD per barel.

Syaratnya, Selat Hormuz harus dibuka sepenuhnya pada tiga bulan terakhir tahun ini. Namun, gangguan di Laut Merah dan serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi tetap menjadi risiko kenaikan harga minyak mentah.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Stock Futures Melemah, Harga Minyak Melonjak Usai AS Gagalkan Serangan Rudal Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) saham...

Harga Emas Dunia Tergelincir Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa...

Menanti Keputusan Suku Bunga Fed, Dow Futures Bergerak Tipis

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) indeks Dow...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru