spot_img

BCA Ungkap Strategi Jaga Laba Saat NIM Turun jadi 5,3%, Kredit Tetap Ditargetkan Tumbuh 8-10%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memastikan tekanan terhadap margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) belum mengganggu target pertumbuhan bisnis perseroan. Di tengah persaingan likuiditas dan perubahan suku bunga, BCA memilih menjaga disiplin biaya, memperbesar dana murah (CASA), serta mempertahankan kualitas kredit untuk menopang pertumbuhan laba.

Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan NIM BCA pada semester I 2026 berada di level 5,3%, turun dari 5,8% pada periode yang sama tahun lalu atau melemah 50 basis poin (bps).

“Untuk NIM, pada semester pertama 2026 NIM ditutup dengan 5,3%. Dibandingkan dengan tahun lalu 5,8%, jadi turun 50 bps. Ini seiring dengan kondisi industri perbankan karena suku bunga sempat turun sejak awal tahun lalu dan banyak penurunan suku bunga kredit sepanjang 2025 yang masih berlanjut hingga kuartal pertama 2026,” kata Vera dalam paparan kinerja di Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Menurut Vera, penurunan tersebut juga dipengaruhi persaingan di industri perbankan.

“Jadi NIM kita turun year-on-year, quarter-on-quarter sedikit turun 10 bps. Ini adalah dampak dari persaingan, pertumbuhan, dan sebagainya,” ujarnya.

Berdasarkan paparan perseroan, NIM bank only pada semester I 2026 tercatat 5,3%, turun dari 5,8% pada semester I 2025. Sementara Risk Adjusted NIM turun menjadi 4,8% dari sebelumnya 5,3%. Di sisi lain, Cost of Credit (gross) tetap terjaga di level 0,5%, sedangkan Cost of Credit setelah recovery turun menjadi 0,3% dari 0,4%. Tingkat kredit bermasalah (NPL gross) juga membaik menjadi 1,9% dari 2,2%, sementara Loan at Risk (LAR) turun menjadi 4,9% dari 5,7%.

Presiden Direktur BCA Gregory Hendra Lembong mengatakan penurunan pendapatan bunga bersih tidak menghalangi pertumbuhan laba perseroan.

“Dengan penurunan net interest income tentu bagaimana kita mencapai pertumbuhan laba bersih, tentunya di BCA sendiri kita terus disiplin mengenai biaya, juga kredit tim kita harus disiplin, pertumbuhan CASA tentunya juga akan banyak membantu pertumbuhan laba bersih kita,” kata Hendra.

Laporan keuangan menunjukkan pendapatan operasional naik 2,2% menjadi Rp55,8 triliun pada semester I 2026. Pendapatan nonbunga meningkat 11% menjadi Rp13,2 triliun, sementara laba bersih naik 1,8% menjadi Rp29,5 triliun. Namun, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) turun 0,6% menjadi Rp42,4 triliun.

Di sisi pendanaan, Hendra menyebut kondisi likuiditas BCA tetap kuat di tengah persaingan penghimpunan dana.

“Mengenai likuiditas secara umum untuk BCA kita cukup beruntung, likuiditas kita cukup terjaga dengan baik,” ujarnya.

BCA juga mencatat pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 10,2% menjadi Rp1.082 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 7,9% menjadi Rp1.284 triliun. Porsi CASA mencapai sekitar 84,3% dari total DPK, sehingga biaya dana (Cost of Fund) tetap terjaga.

Untuk bisnis kredit, Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menegaskan perseroan tidak mengubah target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

“Kalau mengenai outlook loan growth enggak ada perubahan, kira-kira sekitar 8% sampai 10% sampai dengan akhir 2026,” kata John.

Ia menjelaskan pertumbuhan kredit pada semester I 2026 didorong meningkatnya penggunaan fasilitas kredit untuk modal kerja dan investasi. Ke depan, pipeline kredit akan berasal dari sektor infrastruktur, teknologi, transportasi, logistik, perkebunan, pertanian, serta jasa keuangan.

Hingga akhir Juni 2026, untuk pertama kalinya penyaluran kredit BCA menembus Rp1.036 triliun, tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Kredit korporasi naik 13,6% menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM meningkat menjadi Rp288,5 triliun. Rasio NPL tetap terjaga di 1,9%, sementara LAR berada di 4,9%.

Hendra menambahkan model bisnis BCA yang beragam menjadi salah satu kekuatan menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

“Kalau suku bunga naik, ada beberapa divisi yang kontribusi lebih besar. Kalau suku bunga turun, divisi lain biasanya memberikan kontribusi lebih besar. Jadi kita cukup balance bisnis model kita. Apa pun situasinya kita melihat selalu ada kesempatan untuk terus memberikan solusi kepada nasabah,” ujar Hendra.

Selain memperkuat bisnis inti, BCA terus mengembangkan layanan digital. Perseroan kini memungkinkan pembukaan rekening efek dan Rekening Dana Nasabah BCA Sekuritas melalui myBCA, pengajuan kartu kredit baru atau tambahan secara digital, serta penambahan layanan pembelian tiket pesawat melalui aplikasi myBCA. Inovasi tersebut turut mendukung pertumbuhan pendapatan nonbunga BCA.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pendapatan Bukalapak (BUKA) Melesat 29% Jadi Rp3,99 Triliun, Namun Rugi Rp820 Miliar di Semester I-2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan pendapatan neto...

Obligasi ENRG Rp250 Miliar Resmi Melantai di BEI, Bunga 8,95% per Tahun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan...

BRI Salurkan KUR Perumahan Rp10,6 Triliun, Lampaui Target Unit Program 3 Juta Rumah

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI)...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru