STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp3,99 triliun pada semester I 2026. Perolehan ini meningkat 29,3% dibandingkan Rp3,09 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan interim per Juni 2026, pertumbuhan pendapatan ini didominasi oleh segmen Gaming. Lini bisnis ini menyumbang Rp3,48 triliun atau sekitar 87% dari total pendapatan. Kontributor lainnya berasal dari segmen Online to Offline sebesar Rp324,26 miliar. Sementara itu, segmen Ritel berkontribusi Rp139,09 miliar dan segmen Investasi menyumbang Rp43,24 miliar.
Meskipun pendapatan tumbuh positif, BUKA mencatatkan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp820,74 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan laba bersih Rp464,45 miliar yang diraih pada semester I 2025. Penurunan ini memicu rugi per saham dasar menjadi Rp8,53, dari sebelumnya laba per saham Rp4,50.
Penyebab utama kerugian ini adalah adanya rugi nilai investasi sebesar Rp1,75 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode tahun sebelumnya yang masih mencatatkan laba nilai investasi sebesar Rp243,22 miliar.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan ikut terkerek naik menjadi Rp3,69 triliun dari Rp2,83 triliun. Beban penjualan dan pemasaran juga mengalami kenaikan menjadi Rp129,80 miliar dibandingkan Rp100,53 miliar pada 2025. Namun, manajemen berhasil melakukan efisiensi pada beban umum dan administrasi yang turun signifikan menjadi Rp194,06 miliar dari sebelumnya Rp305,94 miliar.
Di sisi lain, Perseroan berhasil menjaga tren positif pada Adjusted EBITDA. Selama semester I 2026, Adjusted EBITDA tercatat positif Rp10 miliar. Angka ini meningkat sekitar Rp44 miliar dibandingkan posisi negatif Rp34 miliar pada semester I 2025.
Victor Putra Lesmana, Direktur PT Bukalapak.com Tbk menjelaskan perkembangan bisnis perusahaan. “Adjusted EBITDA yang tetap positif sepanjang semester I 2026 mencerminkan kemajuan berkelanjutan dari transformasi yang kami jalankan. Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian, kami tetap berfokus pada disiplin operasional, peningkatan kualitas pendapatan, serta pengembangan bisnis yang berkelanjutan di seluruh segmen,” ujar Victor dalam siaran pers dikutip Rabu (29/7/2026).
Menilik kekuatan neraca, BUKA memiliki total aset sebesar Rp24,88 triliun per 30 Juni 2026. Jumlah ini turun tipis dari posisi Desember 2025 yang sebesar Rp26,03 triliun. Penurunan aset terutama dipengaruhi oleh berkurangnya kas dan setara kas menjadi Rp14,25 triliun dari Rp16,21 triliun.
Total liabilitas Perseroan juga mengalami penurunan menjadi Rp573,36 miliar dari Rp717,30 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, total ekuitas tercatat sebesar Rp24,31 triliun per Juni 2026. Nilai ini melandai dari posisi Desember 2025 yang sebesar Rp25,31 triliun.

