spot_img

Bursa Saham Asia-Pasifik Berakhir Bervariasi, KOSPI Longsor 10,84% Dipicu Aksi Jual Saham Chip

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Sebagian besar indeks utama berakhir di zona merah. Tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan setelah aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor yang dipicu kekhawatiran terhadap persaingan China, tingginya valuasi sektor kecerdasan buatan (AI), serta pendanaan infrastruktur AI.

Mengutip Investing, indeks KOSPI Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan dengan anjlok 10,84% ke level 6.023,66. Indeks ini kehilangan 732,09 poin dan sempat menyentuh level terendah 5.992,91. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak konflik Amerika Serikat (AS)-Iran pada Maret lalu.

Tekanan di Korea Selatan dipicu anjloknya saham dua produsen chip terbesar, Samsung Electronics dan SK Hynix. Saham Samsung Electronics ditutup turun 13,4%, menjadi penurunan harian terdalam dalam hampir dua dekade. Sementara itu, saham SK Hynix merosot 14,7%. Kedua emiten tersebut memiliki bobot hampir separuh dari indeks KOSPI sehingga memperbesar tekanan terhadap pasar saham Korea Selatan.

Aksi jual juga menjalar ke negara lain. Saham produsen chip memori Jepang, Kioxia Holdings, merosot 18,3%. Sementara saham perancang chip asal Taiwan, MediaTek, melemah hampir 10%.

Di bursa Amerika Serikat, saham SK Hynix turun 7,5% menjadi USD143,02. Ini menjadi penutupan pertama di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar USD149 sejak perusahaan melantai di Nasdaq bulan ini. Kondisi tersebut mencerminkan perubahan cepat sentimen investor terhadap salah satu perusahaan yang selama ini menjadi penerima manfaat terbesar dari tren AI.

Analis Senior StoneX, Matt Simpson, menilai aksi jual sudah memasuki fase kepanikan.

“Kami tampaknya berada pada fase keputusasaan dalam aksi jual. Investor teknologi bergegas keluar karena Nasdaq mengarah ke sana. Saat ini KOSPI menjadi penentu sentimen di Asia dan kondisinya terlihat buruk,” kata Simpson.

Menurut para analis, aksi jual dipicu kombinasi kekhawatiran terhadap pendanaan infrastruktur AI, kemajuan teknologi China, dan meningkatnya persaingan dari perusahaan-perusahaan China.

Analis Kiwoom Securities, Han Ji-young, mengatakan laporan mengenai pengembangan peralatan litografi deep ultraviolet (DUV) buatan China kembali memicu kekhawatiran pasar. Investor menilai produsen chip memori China berpotensi mempercepat ekspansi kapasitas sehingga persaingan di pasar memori global akan semakin ketat.

Meski rincian perusahaan, kemampuan teknologi, maupun jadwal komersialisasinya belum diumumkan, Han menilai kabar tersebut telah mendinginkan sentimen investor. Apalagi, pasar juga sedang bersiap menghadapi rangkaian laporan keuangan emiten semikonduktor pekan ini.

“Meski laba Samsung Electronics pada awal bulan ini dan Alphabet pekan lalu lebih baik dari perkiraan, saham-saham semikonduktor tetap mengalami penurunan tajam setelah laporan keuangan dirilis,” ujar Han.

Sentimen negatif juga datang dari laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia berpotensi menyediakan dukungan pembiayaan sekitar USD250 miliar untuk proyek pusat data OpenAI. Kabar tersebut membuat saham Nvidia turun hampir 5% karena investor mempertanyakan sejauh mana produsen chip AI itu ikut membiayai pelanggannya sendiri.

Di sisi lain, meningkatnya popularitas model AI sumber terbuka berbiaya rendah asal China, seperti Kimi K3, memunculkan kekhawatiran permintaan chip AI canggih dan chip high-bandwidth memory (HBM) tidak akan sebesar perkiraan sebelumnya.

Kekhawatiran pasar bertambah setelah produsen chip memori asal China, CXMT, mencatat debut yang kuat di bursa saham pada Senin (27/7/2026).

“CXMT akan menjadi salah satu saham berbobot besar dalam indeks. Saat itu terjadi, investor harus menjual lebih banyak saham yang sudah mereka miliki,” ujar Managing Partner sekaligus Chief Investment Officer Lotus Asset Management, Hao Hong.

Analis Senior NH Investment & Securities, Ryu Young-ho, mengatakan pencatatan saham CXMT meningkatkan risiko kelebihan pasokan dan pelemahan harga chip memori. Kekhawatiran tersebut muncul setelah beredar laporan Apple melobi pemerintahan Presiden Donald Trump agar mengizinkan penggunaan chip buatan China pada sebagian produknya.

Meski demikian, Head of Multi-Asset Asia Mercer Investments, Cameron Systermans, menilai ancaman dari CXMT masih bersifat jangka panjang.

“Kami melihat ancaman bagi produsen chip Asia lebih merupakan cerita jangka panjang. CXMT memang menjadi pesaing yang terus berkembang di segmen DRAM komoditas, tetapi masih tertinggal beberapa tahun dari perusahaan Korea Selatan dalam teknologi HBM,” kata Cameron.

Selain Korea Selatan, bursa Jepang juga mengalami tekanan. Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 3,95% ke level 62.364,92 setelah kehilangan 2.566,27 poin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia ikut berakhir di zona merah. IHSG turun 0,89% ke level 6.130,59 atau berkurang 55,20 poin. Selama perdagangan, indeks bergerak pada kisaran 6.130,59 hingga 6.199,44.

Di Asia Tenggara, indeks SET Thailand melemah 1,21% menjadi 1.624,47. Sementara indeks KLCI Malaysia turun tipis 0,04% ke level 1.712,48. Indeks Nifty 50 India juga terkoreksi 0,05% menjadi 23.983,95.

Di tengah pelemahan mayoritas bursa, sejumlah pasar berhasil ditutup di zona hijau. Indeks FTSE China 50 naik 0,72% ke level 16.088,98. Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,41% menjadi 25.310,85. Sementara indeks S&P/ASX 200 Australia bertambah 0,60% ke level 8.947,80.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Bervariasi: Dow Jones Lanjutkan Reli, Nasdaq Tertekan Rotasi Sektor

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall...

Bursa Saham Eropa Sukses Bertahan di Zona Hijau di Tengah Ancaman Trump

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru