spot_img

IHSG Sudah Rebound 12%, Tapi Asing Masih Jual Bersih Rp80 Triliun, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah bangkit lebih dari 12% dari posisi terendah tahun ini di level 5.317 dan kembali menembus area 6.000. Namun, dana asing belum menunjukkan tanda-tanda kembali masuk ke pasar modal Indonesia.

Hingga saat ini, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) hampir Rp80 triliun secara year to date (YTD).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pemulihan pasar saham Indonesia sejauh ini lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan aliran dana asing.

Menurut Liza, penyebab utama belum kembalinya investor asing adalah tingginya risk premium Indonesia. Investor global masih menuntut premi risiko yang lebih tinggi akibat kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu tata kelola dan kredibilitas pasar modal.

“SpaceX, World Cup, dan demo mahasiswa bukan ancaman utama foreign outflow Indonesia. Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai additional reasons to wait, sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan Rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance,” ujar Liza dalam riset yang dikutip Jumat (12/6/2026).

Dari sisi global, Liza menyoroti rencana penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang disebut berhasil menghimpun dana hingga USD75 miliar dengan valuasi mencapai USD1,77 triliun. IPO tersebut dinilai menjadi alternatif investasi baru bagi pengelola dana global. Setelah SpaceX, pasar juga menunggu IPO OpenAI dan Anthropic yang disebut berpotensi memiliki valuasi mendekati USD1 triliun.

Menurut Liza, fenomena tersebut berpotensi membuat sebagian likuiditas global tetap bertahan di Amerika Serikat dibandingkan mengalir ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Fenomena itu juga menunjukkan tren investasi berbasis kecerdasan buatan (AI) masih berlanjut.

Sementara itu, narasi investasi Indonesia masih didominasi sektor perbankan, komoditas, konsumsi domestik, dan hilirisasi.

“Bukan berarti buruk, namun gap cerita pertumbuhan antara Indonesia dan pasar teknologi global semakin lebar,” kata Liza.

Selain faktor global, Kiwoom juga menyoroti potensi berkurangnya likuiditas akibat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Turnamen tersebut diperkirakan memicu taruhan legal global hingga USD60 miliar atau naik 71% dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar.

Dengan nilai transaksi judi online di Indonesia yang mencapai Rp286,8 triliun sepanjang 2025, Kiwoom memperkirakan dana yang berputar ke taruhan sepak bola selama turnamen dapat mencapai Rp30 triliun hingga Rp60 triliun.

Nilai tersebut setara sekitar 40%-70% dari total net sell investor asing di IHSG sepanjang tahun berjalan.

“Risiko terbesar bukan pada pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi dan investasi produktif domestik,” tulis Liza.

Kiwoom juga menyoroti rencana demonstrasi mahasiswa yang diperkirakan melibatkan sekitar 1.500 peserta di sejumlah kota di Indonesia pada Jumat (12/6/2026).

Meski dinilai tidak berdampak langsung terhadap fundamental ekonomi, isu stabilitas sosial dan politik berpotensi memperkuat sikap wait and see investor asing. Di tengah berbagai sentimen tersebut, Liza melihat sejumlah faktor yang sempat memicu kepanikan pasar mulai menunjukkan perbaikan.

Rupiah mulai bergerak stabil di bawah Rp18.000 per USD setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate secara total 75 basis poin menjadi 5,50%. Selain itu, tensi geopolitik global mulai mereda dan koordinasi pemerintah, regulator, serta pelaku pasar dinilai semakin baik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Liza menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini juga kembali menarik secara historis.

“Di saat sentimen masih rapuh, valuasi pasar Indonesia justru telah kembali ke area yang secara historis menarik,” ujarnya.

Menurut dia, IHSG yang sempat turun ke level terendah sejak pandemi membuat valuasi pasar kembali berada di kisaran price to earnings (PE) ratio 13-14 kali. Secara jangka panjang, Indonesia juga masih masuk kelompok “Fabulous Five” ASEAN bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam yang diperkirakan menjadi tujuan utama arus modal global dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.

“Risiko memang belum sepenuhnya hilang. Namun jika stabilisasi Rupiah berlanjut, risiko fiskal tetap terkendali, dan konsistensi kebijakan terus membaik, maka fase Sell Indonesia yang mendominasi beberapa bulan terakhir berpotensi perlahan berubah menjadi fase akumulasi,” kata Liza.

Ia juga mengingatkan arus keluar dana asing tidak selalu menjadi penghalang terbentuknya titik balik pasar.

Menurut data Kiwoom, pada tiga dari empat krisis besar terakhir, yakni 2008, 2013, 2015, dan 2020, IHSG sudah lebih dulu naik 15%-56% sebelum investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih.

Pasar juga masih menunggu sejumlah katalis penting dalam dua pekan mendatang. Di antaranya MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni 2026.

“Jika Indonesia mulai memperoleh sinyal yang lebih konstruktif terkait aksesibilitas pasar, tata kelola, maupun peluang peningkatan persepsi investor global, maka arus dana asing berpotensi kembali secara lebih resmi dan terukur,” ujar Liza.

- Advertisement -

Artikel Terkait

RUPO Obligasi WIKA Tidak Capai Kuorum, Usulan Emiten Gagal Disetujui Pemegang Obligasi

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengumumkan...

BRI Siapkan Buyback Saham Hingga Rp500 Miliar, Berlaku Sampai September 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Minta Restu RUPS, Lancartama (TAMA) Siap Divestasi Aset Senilai Rp65,4 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Direksi PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) dan...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru