spot_img

Wall Street Bervariasi: Dow Jones Lanjutkan Reli, Nasdaq Tertekan Rotasi Sektor

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa sore (28/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (29/7/2026) WIB. Indeks Dow Jones mencatatkan kenaikan signifikan selama tiga hari berturut-turut. Investor merespons positif laporan keuangan perusahaan dan penurunan harga minyak dunia.

Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 537,24 poin atau 1,03% ke level 52.747,32. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,21% dan berakhir di posisi 7.428,78. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi justru turun 0,22% menjadi 24.876,91.

Kenaikan Dow Jones dipicu oleh kinerja keuangan emiten yang sangat baik. Saham Sherwin-Williams melesat 8% setelah melaporkan hasil kuartal II yang melebihi perkiraan. Raksasa minuman Coca-Cola juga naik 5% setelah mencetak laba besar dan menaikkan target kinerja setahun penuh.

Kabar baik lainnya datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia merosot karena adanya diskusi antara Iran, Arab Saudi, dan Oman terkait Selat Hormuz. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 4% ke level USD 79,26 per barel. Minyak mentah Brent juga turun 4,8% menjadi USD 84,09 per barel.

Di tengah penguatan indeks utama, sektor teknologi khususnya semikonduktor justru tertekan. Investor mulai memindahkan uang mereka dari saham chip ke sektor ekonomi tradisional. Saham Micron dan AMD merosot lebih dari 8% pada penutupan perdagangan kali ini.

Ross Mayfield, seorang investment strategist di Baird, memberikan analisanya terkait kondisi pasar. Ia melihat adanya perubahan strategi besar-besaran di kalangan pemodal.

“Ini merupakan rotasi yang sangat berbasis luas,” ujar Mayfield kepada CNBC. “Pelepasan momentum ini adalah cerita yang telah berlangsung selama enam hingga delapan minggu. Hal ini lebih banyak berkaitan dengan teknis pasar daripada perubahan fundamental apa pun.”

Mayfield menilai tren perpindahan modal ke sektor perbankan atau industri akan bergantung pada kondisi ekonomi. Hal ini berkaitan erat dengan stabilitas harga minyak dan tingkat suku bunga.

“Sulit untuk memberikan alasan penuh bagi sektor konsumsi, keuangan, atau industri untuk terus naik jika suku bunga melonjak dan harga minyak bergerak naik menuju USD 100 per barel,” tambah Mayfield.

Saat ini para pelaku pasar sedang menunggu keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Investor memperkirakan bank sentral tetap menahan suku bunga pada pertemuan hari Rabu. Meski begitu, data pasar menunjukkan adanya peluang kenaikan suku bunga sebesar 0,25% pada September nanti.

Selain kebijakan suku bunga, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan perusahaan raksasa. Pasar sedang menanti data kinerja terbaru dari Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft yang akan dirilis dalam minggu ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Bursa Saham Eropa Sukses Bertahan di Zona Hijau di Tengah Ancaman Trump

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir...

Bursa Saham Asia-Pasifik Berakhir Bervariasi, KOSPI Longsor 10,84% Dipicu Aksi Jual Saham Chip

STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru